Friday, April 23, 2010

Pintu Terlarang

 "Wanita, dipuja karena hatinya..."

***

Gua suka banget nonton film. Bagi gua film adalah representasi sebuah kehidupan. Selain nilai enterteining, ada nilai-nilai moral yang memperkaya khazanah bagi gua yang notabene adalah seorang yang gila banget akan sebuah pengalaman. Dan melalui film, gua dapatkan itu semua.

Kalau ada orang yang tanya film apa sih Ndra yang menurut lo paling berkesan? Aduh sumpah banyak banget. Malah hampir semua film yang habis gua tonton itu semuanya berkesan. Jujur gua itu tipe orang yang kalau habis nonton film, nggak tau kenapa jika kira-kira ada satu hal yang inspiratif, langsung coba gua praktikan. Contohnya waktu kecil, waktu Titanic lagi booming, gua pengen banget berdiri di geladak kapal, terus teriak "I'M KING OF THE WORLD...!!" Terus lagi waktu habis nonton Armagedon, gua langsung berusaha mati-matian gimana caranya bisa ke bulan. Itu masih mending, nggak terlalu ngerepotin, karena ada satu film yang bikin gua terinspirasi gila, tapi bingung gimana cara ngikutinnya. Film itu judulnya 'Planet of The Apes', dan saking tergila-gilanya, gua pengen jadi monyet.

Yah itu tadi sedikit intermezzo dari gua. Ngomongin film apa yang paling berkesan, gua sekarang mau cerita tentang salah satu film yang kesannya dalam banget, karena film ini yang memegang rekor sebagai film paling mahal yang pernah gua tonton. Untuk bisa menyaksikannya, harus ditukar dengan satu unit sepeda motornya Mei. Karena mau nonton film inilah gua harus merayakan tahun baruan di kantor poolisi, yang mau tau gimana kejadiannya, baca lagi Percayalah, Tak Ada Tahun Baru Sehitam Ini !

Untungnya, harga mahal itu sebanding dengan kualitas yang disajikan film ini. Gua sebelumnya udah sering denger referensi dari para kritikus, kalau film ini hollywood minded. Itu terbukti dengan banyaknya gelar yang di dapat. Sekedar info aja film ini itu adalah adaptasi dari sebuah novel yang berjudul sama, dan bukunyapun ramai dibicarakan juga. Pemain utamanya Fachri Albar yang diduetkan dengan pacarnya sendiri, Marsha Timothy. Pasangan paling buat iri sedunia. Cowoknya ganteng, dan ceweknya sexy abis!

Straight to the point, gua akan review sedikit tentang film ini. Menceritakan sang tokoh utama, Gambir yang bekerja sebagai seorang pematung. Untuk ukuran seorang seniman, dia bisa dikatakanlah sebagai seniman yang udah sukses, denga kehidupan yang perfect. Karya-karyanya selalu laku terjual dengan harga yang mahal, mempunyai istri cantik dan pintar (kombinasi yang gua cari-cari selama ini, is it you girl?), Ibu yang selalu mendukung semua keputusannya, dan juga sahabat-sahabat yang nggak lelah memberikan support.

Hidup Gambir teramat bisa dibilang sempurna dengan semua hal yang dimilikanya tersebut. Begitulah publik menilai dia. Tapi sayangnya semua itu, 'njas prom ndhe kafer'.

Gading sendiri menjalani semua kehidupannya dengan sangat 'ogah-ogahan'. Dia merasa semua ini nggak real, ada sebuah kebohongan dibalik ini semua. Hidup sempurna yang dimilikinya itu palsu, tapi dia nggak pernah tahu, kenapa dia bisa sampai merasakan itu.

Sampai pada suatu ketika, satu persatu rahasia kesempurnaan hidupnyanya terungkap. Jadi Gambir ini adalah pematung dengan spesialisasi patung ibu hamil. Yang membuat karyanya berbeda, adalah patung-patung tesebut seolah mempunyai jiwa. Seperti seorang yang sedang mengandung betulan. Itulah yang membuat para penggemarnya terkagum-kagum, ada sebuah kehidupan di dalam patung-patungnya.

Sebuah kehidupan itu, memang benarlah adanya. Jadi, Gambir memang memasukan satu bahan yang sangat ia rahasiakan. Bahan yang membuat karya-karyanya serasa berbeda, yakni janin bayi hasil aborsi. Itulah yang membuat Gambir resah, karena ia merasa bersalah dengan memasukan janin-janin itu pada patungnya. Beberapa kali ia memutuskan untuk berhenti, tetapi kurator seni yang biasa memasarkan karya-karyanya mengancam Gambir jika dia sampai berhenti mematung. Kurator itu bilang dia akan membeberkan semua rahasia yang ada dalam patung-patung itu, kepada publik.

Disaat limbung, satu pil pahit harus ia telan lagi. Istrinya yang selama ini menjadi orang yang menjadi kreator dibalik semua kesuksesannya, serta ibu yang selalu mendukungnya, ternyata adalah dalang dari semua kegundahannya selama ini. Ia mendapati fakta bahwa Istrinya berselingkuh dengan 'teman-teman dekatnya'. Dan yang menyuruh istrinya berselingkuh itu adalah ibunya sendiri, dikarenakan Gambir divonis mandul karena setelah sekian lama tidak bisa menghasilkan keturunan.

Ditambah lagi ternyata yang membocorkan rahasia janin dalam patungnya itu adalah sang istri, membuat Gambir makin marah menjadi-jadi. Ternyata benar selama ini memang dia habis-habisan dibohongi. Akhirnya, di puncak emosi Gambir mendesign sebuah acara makan malam. Yang nantinya, akan menjadi acara makan malam terakhir untuk Istri, Ibu, kurator seni, serta sahabat-sahabat karibnya.

Endingnya (Sorry, now i'll be a spoiler, hehe...), dengan diiringi alunan musik Jazz, Gambir mengeksekusi orang-orang yang telah membohonginyanya itu satu-persatu. Dan ini sampai sekarang menjadi adegan pembunuhan favorit gua, penuh darah dan sangat elegan. Satu tindakan yang gua kira tepat, untuk sebuah pengkhianatan.

***

Waktu nonton film ini, gua nggak pernah nyangka kelak suatu saat akan mengalami hal yang sama, seperti yang dialami Gambir. Esensi sebuah pengkhianatan itu benar-benar gua rasakan, dan gua tahu banget rasa sakitnya itu kaya gimana.

Pasangan yang selama ini memajang senyuman selebar surga di depan kita, ternyata punya sampah busuk yang disembunyiin. Nggak tau apa, aroma itu suatu saat pasti akan kecium, mau sepintar apapun dia nyimpennya.

Gua nggak akan pernah punya respect dengan orang yang nggak menghargai arti pentingnya suatu hubungan. Jijik aja liatnya, sama orang yang punya pikiran kalau punya pacar lebih dari satu itu adalah hal yang keren. Apa sih salahnya jadi orang setia? Kalau emangnya nggak cocok lagi tinggal bilang, tinggal putus, simple kan?

Kalau ketemu orang kaya gini, sempet kepikir eksekusi ala Gading mungkin jadi hal yang seru banget buat dilakuin. Tapi untung, gua nggak setega itu. Cukup ngasih sedikit pelajaran aja, kalau seorang wanita, nggak sepatutnya bertindak seperti itu.

Percayalah, Tak Ada Tahun Baru Sehitam Ini !

Dari balik ketampanan wajah ini, kadang gua sering membersitkan satu tanya : kok bisa ya gua nulis dengan begitu elegannya? Kekuatan apa yang bersemayam di balik semua cerita-cerita aneh gua, yang buat orang-orang dengan lantangnya bilang "Ih ceritanya seru deh! Kenapa nggak dibuat versi braile-nya juga? Biar orang-orang buta bisa baca, dan mereka nggak akan kecewa bahwa penulisnya hanyalah 'cowok biasa ajah' yang seumur hidupnya rela melakukan apapun (termasuk telanjang-telanjang di depan rumah walikota) cuma biar bisa dibilang, GANTENG..."

Hal itu secara nggak sengaja akan tersadar, kalau-kalau gua lagi nggak ada kerjaan sambil baca-baca tulisan-tulisan jaman dulu gua. Bisa juga ya, gua yang notabene amat mirip sekali dengan Robert Pattinson, pria yang seharusnya mencurahkan separuh hidupnya di keglamouran dunia showbizz Hollywood, menyusun kata demi kata dengan kemampuan ala kadarnya, jatohnya malah membuat rusak tatanan bahasa, yang kalau dibaca bukan lagi terlihat seperti sastra Indonesia, tapi justru sastra Nigeria.

Okay, back to the main topic. Dalam menulis, kadang gua cuma berusaha jujur aja. Bahkan kalau bisa sejujur-jujurnya, share everything what i'm feeling. Itulah kenapa tulisan-tulisan yang gua buat terlihat natural. Karena emang nggak ada yang dibuat-buat. Agak lebay? Oh come on! Gua dikenal orang ya karena pembawaan gua yang lebay itu tadi. Jadi ya harap maklum kalau gua menceritakan apa-apa dengan sudut pandang yang agak berlebihan. Tapi bukan lebay norak!
Dan kejujuran gua dalam menulis tadi, nggak akan bisa gua vermak sedemikian rupa, kalau bahannya adalah sesuatu yang nggak 'spektakyular'. Jadi sebenernya inti dari semua cerita-cerita ini adalah pengalaman-pengalaman gila yang entah dari mana datangnya satu-persatu menghampiri gua dengan seenak bapak moyangnya.

Untuk yang satu ini gua wajib bersyukur kepada Dia Yang Maha Kuasa. Bahwa dibalik semua musibah dan hal-hal indah selama ini ada satu sisi pesan moral yang harus gua telaah dalam-dalam. Mungkin dari situ semua gua jadi punya cerita luar biasa, yang kalau gua bagi ke orang-orang mereka akan bilang "Ih gila, ternyata ada juga yang kaya gitu. Kirain di film-film doang..."

Dan kali ini, cerita luar biasa itu nambah lagi.

***

Sore itu, adalah sore terakhir di 2009. Dari atas balkon rumah, gua sedang melakukan kegiatan yang paling menguras kinerja telinga serta intelektualitas berbicara, yakni nelfon. Dari blackberry gemini tipe 2330 klasik gua, terdengar suara wanita bernama Meilina Rahmadiani. Seseorang mahasiswi perantauan dari kota paling bertaqwa se-Indonesia, Serang. Nggak perlu mendeskripsikan wanita ini terlampau detail, karena dialah yang akan menjadi pemeran utama dalam cerita ini.

"Ije lo kemana sih tadi nggak liat Ibe sama Idung ngeband?" Suara Mei manja-manja basah.
"Ngeband?? Bukannya nanti jam 11 malem ya?" Suara gua, serak-serak bau.
"Iih Ije!! Ngebandnya itu jam 11 siang, bukan jam 11 malem!! Gimana sih? Yaudah lo siap-siap, anak-anak jadinya mutusin tahun baruan dirumah Radit. Nggak mungkin kan, seorang Indra Julianta ngerayain tahun baruannya di Metro??" Semua kata-katanya, berhasil mencederai integritas gua.
"Ooh jam 11 siang, yah kelewat dong! Yaudah gua siap-siap dulu deh! Oh iya, bawa apa aja?" Sebagai orang yang ngak bisa bedain antara jam 11 malem dengan jam 11 siang, gua nggak mau banyak omong.
"DUIT AJA!" Uang dan wanita, memang dua hal yang tak akan terpisahkan.
"Okay, gua berangkat ya Mei" Telepon gua tutup, percakapan terhenti. Saat itu gua nggak langsung mandi, tapi berdiri mandangin abu-abunya langit yang agak mendung.
Well, tahun 2009 udah mau abis. Nggak terasa udah banyak hal aja yang gua lewatin dengan amat tampannya. Terlalu banyak kejadian yang membuat gua jadi semakin banyak belajar, semakin dewasa, dan semakin tahu hakekat hidup yang sesungguhnya. Untuk itu, nanti malam harus ada sebuah perayaan, kecil-kecilan tapi berkesan. And this is the first experience for celebrate a new year party with my Unila's friends. I think it's gonna be awesome, i hope.

***

Di jalan mendung banget. Tapi gua inget, kemendungan bukanlah akhir dari segalanya. Mendung diciptakan untuk menghalangi jalan bagi para pengecut, dan jelas itu bukanlah gua. Langit semakin gelap, dari kejauhan gua mendengar suara Jacob the werewolf mengaum ganas. Kaing-kaing, kurang lebih begitu bunyinya. Sangar dan gahar. Pada saat itu gua masih di motor, masih belum tergoyahkan. Sejurus kemudian muncul Edward the Cullen boy. Dia melompat-lompat anggun bak kancil sang pencuri timun. Sambil melihat gua, dia berusaha coba mengucapka sesuatu, yang samar-samar gua denger "Awas mas!!" Gua bingung, dalam hati bertanya-tanya? Sejak kapan Lampung bisa semirip ini dengan suasana Forks? Apa yang terjadi? Misteri apa yang menyebabkan semua ini? Dalam pertanyaan gua yang sumpah kritis mampus itu, tiba-tiba gua mendengar suara "BRAAAAKK...!!"

Gua mendapati diri dan motor gua berada dalam lubang di tengah jalan yang rusak. Damn ! Gua ketiduran di motor, lagi.

Fakta, ini semua adalah nyata. Kombinasi perjalanan jauh serta dahstanya bakat gua dalam berimajinasi, membuat suatu sinergi yang bikin gua bisa tidur di motor. Antara sadar dan nggak, kayak orang mabok yang habis makan tape Bogor empat belas kilo.

Gua berhenti, gua angkat ban depan. Dengan sisa-sisa harga diri gua yang nggak seberapa, gua ngebut sekebut mungkin. Nggak lama, gerimis datang. Allah, banyak amat rintangannya. Gua cuma mau tahun baruan, bukan mengambil kitab suci. Tapi ngapa banyak banget cobaan datang menghadang. Kalau tadi gua bilang mendung diciptakan untuk menghalangi jalan bagi para pengecut, maka gerimis diciptakan untuk menunda jalan bagi para manusia ganteng. Hal ini ada di perjanjian orang ganteng sedunia yang waktu itu gua hadirin. Tujuannya mulia, agar ganteng kita nggak luntur, lantas berceceran di jalan, yang kemudian akan mengundang orang-orang yang 'tidak ganteng' berebutan mencari kegantengan kita yang tumpah-tumpahan, hingga mengakibatkan kemacetan bahkan kecelakaan lalu lintas. Itulah kelebihan kita. Dibalik kemegahaan wajah, masih ada kejernihan hati dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

***

Gua sampai di rumah Radit dengan hati yang berkembang-kembang (berbunga-bunga, RED).
"IJEEEE...!" Teriak Mei dengan segala image manja yang melekat pada dirinya.
"Hai Mei!" Gua mau ikut-ikutan dia, tapi langsung gua urungkan. Gua manja, NGGAK PANTES!
"Kok nggak matching sama dress code sih? Kan tadi gue sms suruh pakai baju tidur. Ah Ije maah.."
"Gua bawa kok, baju tidurnya. Tapi ya nggak asik aja kan kalo gue naik motor dari Metro pakai baju begituan? Ntar disangka habis check in sama tante-tante lagi! Oh iya, nanti siapa aja yang mau dateng? Sory ya tadi nggak bisa liat si Idung sama si Ibe ngeband."
"Ramai kok Je. Sebentar ya gue mau siap-siap dulu buat ntar. Udah lo duduk aja, cape kan jalan jauh dari Metro!"

Begitulah Mei, selalu ramah sama semua orang. Senyumnya diumbar-umbar kemana-mana, berasa Miss Puerto Rico yang namanya diumumin masuk sepuluh besar kompetisi ratu sejagat. Dia cantik , tapi gendut (sebenenya gue ga enak bilangnya Mei, tapi berat lo yang 85, nggak kepikiran lagi di otak gue buat gambarin lo secara tepat kecuali dengan kata itu). Iya, beneran dia cantik. Keturunan Bengkulu tapi rumah di Serang. Dia sering bilang "Orang Bengukulu itu cantik-cantik lho Je...!" Dan tanggapan gua ke dia adalah "Iya Mei percaya! Gue denger-denger juga Megan Fox, Vanessa Hudgens, Cameron Diaz mereka semua asalnya dari Bengkulu kan? Hehehe ! Nggak Mei gue bercanda! Iya lo cantik kok, kalau kurus juga gue pasti nembak lo. Berantem-berantem deh gue sama Radit, haha..."

Mulai dari sinilah, suatu kejadian yang paling traumatis dalam hidup gua akan terjadi. Dan itu semuanya dikarenakan oleh satu perihal , selera film.

***

"Eh kita nyewa kaset film yuk ke Ultra Disc, gimana setuju nggak?" Ajak Mei
"SETUBUUH!!" Teriak gua semangat, tertarik dengan ajakan itu.
" Yaudah aku anter ya?" Radit berusaha mengajukan diri.
"Ah aku sama Ije aja deh ya! Ije kan selera filmnya keren tu !" Proposal pengajuan diri Radit, ditolak mentah-mentah.
"Yaudah. Tapi ati-ati ya!!" Radit pasrah. Merelakan wanitanya pergi dengan pria yang dianggap Mei memiliki selera film yang lebih mumpuni dari dia, gua. Pesan moral : Perbanyaklah menonton film berkualitas, maka niscaya wanita dengan sendirinya akan memilihmu.
"Eh tapi kita ke Ultra nya naik apa ya Je? Shiro, Pluto, Ketrin, apa Inem?" Salah satu ciri orang-orang yang udah ga punya kerjaan, memberi nama pada motor-motornyanya. Iya, itu adalah nama-nama motor kita. Dan orang-orang yang nggak punya kerjaan itu, juga kita.
"Mmh, terserah lo deh Mei."
"Yaudah pake motor gue aja deh. Naik Shiro aja ya kita."
Dalam hidup memang kita dituntut untuk memilih. Dan semua pilihan itu akan mempunyai konsekuensinya masing-masing. Nggak tau entah itu kebetulan atau memang takdir, tapi memilih Shiro adalah pilihan yang beberapa jam nanti akan gua dan Mei sesali : ini adalah sebuah pilihan yang salah.

Di jalan kita ngobrol-ngobrol biasa. Ngomongin cinta dan semua problemalitas kehidupan remaja seumuran kita. Dalam banyak hal memang gua selalu nyambung kalau ngobrol sama Mei. Dia tau banyak hal, dan gua akan selalu nyambung ngobrol dengan orang berwawasan luas.

Sampailah kita di Ultra. Parkirannya ramai, jadi mau nggak mau kita parkirnya agak menyamping sedikit, tepat di counter handphone yang kebetulan lagi nggak buka. Motor gua kunci stang, tapi nggak gua gembok. Katanya Mei juga nggak usah, lagian paling cuma sebentar. Itulah mengapa kami berdua dikenal memiliki prasangka baik oleh orang-orang. Termasuk prasangka baik kami bahwa Shiro akan aman-aman saja dan akan selalu ada ditempatnya.

Jadi tema malam ini adalah horror. Baiklah, gua pilihkan berbagai film horror serta triller yang akan membuat bulu ketek mereka merinding. Meskipun gua adalah remaja dalam garda terdepan gerakan 'TOLAK PEMBODOHAN BANGSA DENGAN TIDAK MENONTON FILM HORROR!', tapi gua tau lah film-film apa aja yang masuk daftar wajib nonton, film dengan genre seperti ini.

"Eh Mei, gua pinjem ini juga ya. Bagus banget tau, drama Indo sih, tapi lumayan spooky !"
"Oh iya udah, emang apa Je?"
"Film ini!"
"Oh ituuu ! Iya tau gue kok. Yaudahlah pinjem aja."

Kita berdua cukup lama di dalam sana. Toko buku, toko olahraga, dan tentunya toko penyewaan kaset film seperti ini, adalah tempat-tempat dimana gua entah kenapa bisa berlama-lama tanpa punya penyesalan sedikitpun bahwa waktu berjalan berlalu begitu saja. Tak kan gua perdulikan lingkungan sekitar, karena semua hal yang ada di dalam ruangan-ruangan itu bersinergi, menyatu, menghipnotis, membawa gua jauh ke alam bawah sadar.

Setelah kurang lebih lima belas menit berselang, kita memutuskan untuk mengakhiri pencarian. Waktu mau bayar, sesorang dengan gelagat yang aneh, dengan dandanan yang metal abis, sedikit menarik perhatian gua dengan kelakuannya yang bukan seperti peminjam kaset film pada umumnya. Tapi gua nggak perduliin, toh mas-mas metal itu nggak ganggu hidup gua.

Gua kadang selalu ngebayangin, bahwa gimana ya rasanya kalau kita pergi ke sebuah toko atau apalah itu, dengan berkendara motor, tapi tiba-tiba 'VOILAA..!' benda sebesar itu hilang lenyap tanpa bekas. Reaksi apa yang akan keluar dari mimik wajah setengah Indo ini, jika mendapati kenyataan bahwa notabene kita pergi dengan mengggunakan motor, dan harus pulang kerumah dengan berjalan kaki. Shock, iya pasti cuma itu yang bisa gua lakuin. Amit-amit jabang Britney, jangan sampai deh.

Tapi entah dosa apa yang kita perbuat pada orang tua, entah karma apa yang kita peroleh dari siapun yang pernah kita sakiti, dan entah sumpah apa yang kita langgar sehingga semurkanya ini Allah menguji kita dua orang hamba-Nya dengan cobaan yang terlampau besar untuk manusia selemah gua dan Mei. Ketakutan gua selama ini, datang menuntut balas : Shiro lenyap, hilang.

"IJE MOTOR GUE MANA !?!?"
"TADI ADA MEI ! TADI ADA DISINI !"
"KUNCINYA MANA !? LO KUNCI NGGAK?!
"UDAAH !! INI KUNCINYA GUE PEGANG! YA ALLAH MEI, ADA BEKAS BANNYA ! ADA YANG BAWA KABUR !!"
"IJE TELEPON ANAK-ANAK, CEPET!"
"IYA INI GUE TELEPON !!!"

Gua ingat betul, suasana sangat tegang pada waktu itu. Mei menangis, sedang gua diam, pucat, dan tanpa sadar teriak-teriak. Lutut ini serasa tak bersendi, lemah, gontai sekali. Kami merasa terkhianati, prasangka baik ini bertepuk sebelah tangan. Sebuah keputusan yang sangat amat konyol, membiarkan motor terparkir tanpa terkunci ganda di Lampung ini. Padahal kalau saja mereka mau sedikit mengerti, bahwa kami adalah mahasiswa rantau yang dengan niat tulus ikhlas sepenuh jiwa hanya ingin belajar, menuntut ilmu, tak lebih. Namun mengapa balasan seperti ini yang kami terima ?

Beberapa warga sekitar datang karena mendengar kita berdua teriak-teriak. Ada anak remaja tanggung yang kebetulan bawa motor kebesaran orang yang suka buang-buang nyawa, mencoba membantu kami dengan tindakan langsung mengejar. Sambil nangis Mei memberikan isyarat, kode non verbal ke gua, "Ije liatin orang yang mencurigakan tadi!" Gua masuk sesuai perintah Mei, tapi orang yang kita maksud masih ada di dalam. Komplit dua-duanya. Sejurus kemudian mereka menghampiri gua, bertanya layaknya orang yang nggak tau apa-apa.

"Ada apa ya Mas?"
"Ini motor temen saya ilang."
"Ooh. Emang sering kalau motor ilang disini. Biasanya sih larinya ke arah sana, ke Jabung, Lampung Timur."
"Oh gitu ya. Kita kurang paham Mas, soalnya kita berdua bukan orang sini."
"Yaudah kita bantuin cariin ngejar deh, nanti siapa aja ketemu dijalan."

Mereka berdua langsung naik motor. Bablas nggak tau kemana. Mei memperhatikan kedua orang itu. Masih penuh tatap curiga. Tangannya memegang handphone, sambil nangis dia mencatat nomor plat motor mereka. Asli gua juga masih nggak terlalu percaya sama kedua orang aneh itu. Masalahnya tadi di dalam, kedua orang itua seperti menghalangi jalan gua setiap mau ke arah luar. Kepercayaan ini kuat banget, mereka pasti salah satu gerombolan dari pencuri motor ini, pasti.

Nggak lama teman-teman kita datang. Sambil ikutan panik mereka bilang "Kok bisa?" Satu pernyataan yang gua sama Mei bingung juga mau ngejawabnya. Radit, dia memilih langsung bertindak sebagai seorang yang paling merasa bertanggungjawab. Situasi dimana motor pacarnya yang hilang buat dia memutuskan untuk mengejar mereka sendiri. Satu aksi yang menurut gua sangat heroik.

Kita semua harap-harap cemas menunggu hasil pengejaran, dan juga polisi datang. Mei masih nangis, dan gua masih pucat. Yakin banget, teman-teman gua nggak sedikit pasti ada yang nyalahin gua. Sambil goblok-goblokin diri, gua minta maaf sama mereka semua. Dan tanggapannya, ini bukan salah gua dan Mei. Ini takdir, dan nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang dapat menolak itu.

***

"Nama?"
"Meilina Rahmadiani"
"Kalau kamu?"
"Indra Julianta"
"JEDDER...!! JEDEER !!"
"Asal?"
"Serang..."
"Kamu?"
"Bekasi..."
"JELEGER! JELEGEER!! HAPPY NEWE YEAR !!!"

Kita berdua sudah berada di kantor polisi. Bikin surat laporan kehilangan dan sekarang sedang dalam proses interogasi. Jujur baru kali ini gua berurusan dengan hukum. Dan berurusan dengan hukum, itu nggak enak. Gua dan Mei ditanya-tanya, yang kita pikir sebuah tindakan nyata sebuah pengejaran akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan sekedar nanya-nanyain biodata. Satu yang paling kita nggak habis pikir, tahun baruan di kantor polisi, sumpah nggak pernah terbayangkan. Dialog diatas adalah percakapan kita dengan Polisi, diiringi dengan suka cita tahun baru yang gagap gempita. Sakit, sakit banget...

***
Besoknya Filli, salah satu teman gua, ngajakin kita hadir di acara pesta keluarganya. Dia bilang sedikit seneng-seneng mungkin bisa menghilangkan kesedihan kita atas meninggalnya almarhum Shiro. Seperti yang gua bilang, motor yamaha mio putih Mei itu bukanlah hanya sekedar sebuah alat transportasi, dia lebih dari sekedar itu. Di mata kita Shiro itu hidup, dia bak anjing pudel dengan senyum yang amat manja, yang kemana-mana selalu menyertai majikannya. Sekarang dia telah tiada, almarhum telah ditasbihkan sebagai gelar di nama depannya, meninggalkan Mei, sendirian menjadi janda.

Dijalan kerumah Filli, ketua angkatan kita yang terkasih M. Indra Bangsawan, nabrak kucing sampai mati. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa dia adalah salah satu manusia yang mempunyai kecerobohan setingkat dengan Nobita. Dan mitos yang berkembang di masyarakat, jika kita menabrak kucing sampai mati, maka harus dikubur sesegera mungkin dengan dikafani baju orang yang menabrak tadi. Jikalau tidak, maka niscaya tujuh turunan orang tersebut akan tertimpa bala yang tak habis-habis. Dan dengan sangat amat terpaksa, kita jadi bantuin dia ngubur jenazah kucing malang itu terlebih dulu.

***

Selesai dari rumah Filli, ada kabar yang kurang mengenakan datang (lagi). Salah satu teman, yang terpaksa harus gua samarkan identitasnya, pergi ke Jakarta yang sepengatahuan orang tuanya, si anak ini sedang bersama kita. Diputuskan langsung, kita pergi menyambangi kediamannya. Sampai sana Ibunya cerita, bahwa temen gua itu izin katanya mau tahun baruan sam kita-kita. Tapi karena itu anak nggak masuk pas Tuhan bagi-bagi otak, dia nggak pernah ada konfirmasi kalau sedang ingin mendustakan kedua orang tuanya. Jadilah kita pas Ibunya nelpon itu nggak tau apa-apa waktu ditanya itu anak lagi sama kita atau nggak. Ibunya bilang, dia dihubungi nggak bisa-bisa. Sms nggak dibales, telepon nggak diangkat, wall nggak di wall balik, dan tweet nggak di-retweet. Munculah feeling kegelisahan seorang Ibu, ini anak pasti kenapa-napa. Setelah kita yang nelpon, tepat dihadapan beliau, didapatkanlah sebuah fakta bahwa anak ini pergi ke Jakarta untuk menyambangi kekasih jauhnya.

Cinta dan ibu kota, selalu membuat orang-orang silau dan tak berdaya. Si ibu menangis, mengutuki semua kebohongan yang dilakukannya anaknya. Melihat wanita menangis, apalagi seorang Ibu, entah mengapa gua selalu nggak bisa. Dan kejadian ini makin membuat kelam perayaan tahun baruan gua. Percayalah, tak 'kan pernah ada tahun baru yang sehitam ini !

                                                   
                                                    In Memorian : Mei with Alm. Shiro, hiiks...

Tuesday, January 5, 2010

Sebuah Kontroversi yang Bernama Poligami

Gua habis nonton film berbagi suami. Telat banget emang, tapi nggak apa-apa. Daripada nggak sama sekali. Soalnya dari dulu mau nonton ni film, selalu ada aja halangannya, jadi lupa terus mau nonton. Sampai ketika gua baca buku lama dari koleksi buku-buku om gua, yang judulnya ‘POLYGAMI’. Langsung gua catet di handphone, terus besoknya gua download di kampus. Gua tonton, gua terhibur, terinspirasi (karena filmnya menurut gua ‘awesome’ banget), dan gua jadi punya sebuah prespektif baru tentang poligami.

Sama seperti film-film Nia Dinata kebanyakan, tema yang diambil dari Berbagi Suami adalah sebuah pesan tentang banyaknya ketidakadilan yang dialami oleh seorang wanita, dalam hal apa saja. Termasuk takdir. Gua melihat gimana dia menceritakan tentang wanita-wanita yang seolah-olah menjadi korban dalam praktek poligami, berikut dengan detail-detail situasinya, yang mana membuat sang pria terlihat jahat sekali.

***

Poligami udah jadi makanan sehari-hari buat gua. Di lingkungan gua tinggal, kegiatan berumah tangga dengan istri lebih dari satu ini sudah sangat sering gua liat. Biasanya para pelakunya ya orang-orang asli situ. Dengan modal tanah yang banyak, mereka dengan giat mempersunting para pendatang. Gadis-gadis dari desa molek bahenol yang belum mafhum dengan liku-liku kehidupan kota mereka tipu daya dengan pesona yang menurut gua ala kadarnya, malah cenderung nggak ada apa-apanya. Entah berkaitan dengan faktor gen, atau fakor psikolgi yang mungkin membuat mereka berpikir ‘ah lo aja bisa masa gua kagak’, tapi yang pasti gua selalu melihat bawa poligami memang membawa kesengsaraan bagi sang istri-istri.

Gimana nggak, sekarang kita lihat aja contohnya. Kalo sang polygamer (suami yang melakukan poligami. Nggak tau bener apa nggak, gua ngasal soalnya, hehe..) bener-bener juragan tanah, mereka akan dengan sangat royal bagi rumah satu-satu ke istri-istri mereka. Selanjutnya dilakukan pembagian waktu, kapan saja sang suami yang sakti mandraguna ini berhak berapa lama ia tinggal dalam satu rumah. Biasanya hitungannya berapa hari dalam seminggu.

Itu kalo tajir. Kalo ‘poor polygamer’ beda lagi. Mereka, akan mengumpulkan ‘bini-bininya’ itu langsung dalam satu rumah. Metode ini memang terlihat mudah, dan sangat simple. Tapi sebernya cara inilah yang paling banyak membutuhkan kemampuan manajerial tingkat tinggi. Hanya womanizer kelas wahid saja yang bisa menunaikannya. Kadang memang keterbatasan dana, harus diimbangi dengan kreatifitas dan inovasi. Itu hukum alam, hukum pasti.

Sekarang kita lihat efek dari kedua cara diatas.

Poligamer kaya : Pindah dari rumah satu kerumah yang lainnya akan membuat stamina sang suami terkuras. Hidup jadi berantakan, ke kantor akan selalu ribet karena bingung baju serta keperluannya ditaruh dirumah istri yang mana. Sangat riskan. Karena istri yang sedang kebagian jatah ditinggal, merasa kesepian dan amat memungkinkan timbulnya perselingkuhan.

Poligamer miskin : Rumah akan penuh, sesak oleh anak-anak dan sakit hati tingkat tinggi dari istri-istri karena melihat orang yang paling dicintainya membagi-bagi cinta itu sendiri, di depan mata langsung. Sangat rentan akan konflik, membuat suami berkesampatan divonis oleh dokter yang paling mendingnya adalah gangguan telinga. Sedangkan paling parahnya, kematian karena gangguan telinga stadium lima.


Sebetulnya sudah banyak contoh-contoh efek buruk poligami. Namun pemikiran sesaat, dan desakan memuncak hasrat kadang membuat semuanya itu jadi terlihat akan mudah dijalaninya. Memang banyak hal yang membuat, poligami itu terlihat seperti sebuah jalur yang memang diciptakan khusus untuk semua laki-laki. Contoh kecilnya, waktu itu gua BBQ. Jadi temanya adalah pernikahan dalam Islam. Tutor gua yang bijak bestari menjelaskan,
“Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakuakan dalam persenggamaan. Salah satunya adalah memasukan melalui dubur. Dalam prakteknya, banyak suami yang merasa bosan dengan memasukan dari itu saja. Maka dia berusaha mencari variasi, memasukan melalui media yang lain, termasuk dubur. Sedang Islam melarang keras itu, maka jalan keluarnya, dipersilahkan poligami…”

Gua bengong waktu tutor gua menyampaikan risalah itu. Menurut gua, ih waw! Gampang banget alasan ini dijadikan oleh oknum-oknum yang ga bisa adil untuk bisa terus punya banyak istri. Emang syarat utamanya sih yang penting bisa adil. Tapi kalau gua pribadi, berangapan nggak akan pernah ada manusia, yang bisa adil. Seadil Nabi Muhammad, membagi cinta pada istri-istrinya.

Ciuman Terakhir

“Ia tak pernah sekalipun menyerah. Ibuku adalah pahlawanku…” (Kimberly A.B)

26 Desember 2006

Gua akan selalu inget banget dengan tanggal itu. Itulah tanggal dimana untuk terakhir kalinya, gua melihat secara langsung, wajah wanita yang melahirkan gua. Wanita terhebat yang keberadaannya nggak akan tergantikan. Wanita yang untuknyalah gua rela melakukan apa aja, wanita yang kerap gua panggil, ibu…

Kini ia terbujur kaku. Lemas tak sehebat dulu. Kain serba putih itu membalut seluruh jasadnya, keadaan hening dengan isakan dan teriakan orang-orang yang ditahahan sekuat tenaga. Seorang pria setengah baya mempersilahkan gua untuk melihat lebih mendekat, dan samar-samar gua dengar “Silahkan Mas, lihat wajah Alm. Ibu untuk terakakhir kalinya.”

Gua merapat, kini jelas terlihat wajah yang selalu tersenyum setiap gua berhasil membanggakan hatinya itu. Gua tatap dalam-dalam, nampak kelelahan dalam cekung bola matanya. Rasa bersalah telah menyia-nyiakan kebersamannya yang singkat berkelebat hebat. Hati ini wanita ini, terlalu sering gua sakiti. Belum sempat ia melihat gua berdiri dalam gelimang kesuksesan, berkata kepada orang-orang bahwa berkat jasa ia lah gua bisa mencapai semua itu. Izrail hadir terlalu cepat menunaikan tugas. Jantung itu, perlahan mengerogotinya, pelan-pelan dari dalam. Penyesalan mengganda, karena gua nggak ada disamping dia. Saat syahadat berusaha ia ucapkan dalam tarikan napas-napas terakhirnya. Tapi gua ingat, ada satu hal yang buat gua jadi tersenyum sendiri. Setidaknya sebelum kepergiannya, gua tinggalkan satu ciuman di keningnya. Ciuman pertama dan terakhir.

***

Ibu adalah segala-galanya. Harta karun yang paling tersayang, bulan purnama dalam hidup gua. Memisahkan kita berdua adalah sia-sia, seperti Pharaoh yang hendak ikut-ikutan Nabi Musa, berusaha membelah laut merah jadi dua. Jika ditinggal sebentar gua akan panic at the disco. Bahkan saking parahnya, sampai kelas satu SMA gua sarapan masih sambil disuapin. Biar cepet, sekalian gua make sepatu. Disaat suapan terakhirnya gua selalu ingat, dia akan bilang “Belajar kamu yang bener !” Mmh, jika ingat masa-masa itu, sebesar apapun gua nanti, nggak perduli walau udah punya anak istri, jika Ibu masih ada, nggak akan pernah ragu gua untuk minta disuapin setiap hari. Iya, setiap hari.

Seerat itulah memang kita berdua. Membuatnya bangga adalah hal-hal yang paling gua suka. Prestasi akademik adalah sedikit contohnya. Banyak tetangga sering nanya, gimana ngedidik anak biar bisa pinter kaya, ehm… (kerendahan hati buat gua enggan meneruskan kalimat ini). “Ya biasa aja kok Bu. Yang penting anak dibebasin aja, liatin maunya apa. Saya nggak pernah nyuruh-nyuruh mereka belajar kok.” Kalimat terakhirnya diberangi dengan tatapan wajah kea rah gua. Tersenyum, dia kembali tersenyum. Ibu, tahukah senyum apa yang paling dahsyat dari senyum Monalisa? Iya benar, itu senyummu. Jika Da Vinci tahu senyummu itu, dia pasti lebih memilih untuk melukismu, menjadikannya sebagai master piece, kemudian dibingkai dalam dinding agung Louvre. Setelah selesai ia tersenyum, ia akan menghampiri gua. Berusaha mencium anak yang sudah membesarkan hatinya, di depan orang banyak. Tapi gua nggak mau, selalu nggak mau.

Pernah juga dia coba mengomentari salah satu hobi gua. “Kalau main bola kamu nggak usah ikut lari-larian kenapa? Jadi apa itu namanya? Oh iya, jadi kipper aja. Diem duduk di gawang, enak…!” Haha, begitu polos wanita ini bicara.
“Bu, aku nggak mau jadi kipper. Nggak bisa nyetak gol banyak.” Gua jawab dengan jawaban yang sederhana. Jika habis bertanding di lapangan depan ruamh tiap sore di akhir pekan, Ibu diam-diam melihat. Kadang kalau gua kalah dalam sebuah pertandingan yang penting, gua nangis. Tidak banyak yang dia perbuat, hannya mengeluarkan kata-kata sakti mandragunanya. “Kalau nggak sakit, anak cowok nggak boleh nangis.” Kakak dan adik-adik gua, gua yakin mereka hapal sekali dengan petuah bijak Ibu yang satu itu. Iya, Ibu selalu bilang itu. Jika kami, keempat pejantannya mengeluarkan air mata. Namun lain halnya jika gua menang. Dielu-elukan warga sekitar karena berandil besar dalamnya. Pulang kerumah, ibu dengan biasa berusaha mencium gua. Tapi gua nggak mau, tetep nggak mau.

Akhir-akhir itu kesehatan Ibu menurun drastis. Yang gua sesalkan, ia nggak pernah mau bilang, perihal kesakitan yang dideritnnya. Badannya perlahan-lahan mengurus, dan masa-masa pubertas yang menghampiri gua, buat gua jadi ga menyadarinya. Tau-tau waktu diantar kakak gua ke periksa ke dokter, Ibu divonis mengalami penipisan katup jantung. Gua cuma bisa tersentak, khawatir kalau-kalau ini adalah penyakit yang bahaya. Tapi seperti biasa, ia tidak mau membuat gelisah anak-anaknya. Ia selalu berkata nggak apa-apa. Padahal dalam tidurnya jelas sekali gua lihat napasnya tesengal-sengal. Melihat dia seperti itu, gua nggak tega. Perih…

Ibu memutuskan berobat jalan. Tapi penyakitnya tak juga kunjung membaik. Sampai pada akhirnya ia memtuskan untuk dibawa ke Jawa, ke rumah Mbah Putri. Ia bilang ingin mencoba pengobatan alteratif disana, lagipula udaranya juga masih bersih. Mungkin akan mempercepat proses penyembuhannya. Berat bagi gua untuk berpisah darinya, berat sekali. Tapi gua harus berkorban, untuk kesembuhannya.

Sebelum dia pergi, entah ada perasaan apa yang menggelayut dalam pikiran gua. Perasaan ini lebih dari sekedar perasaan ditinggalkan. Ini adalah perasaan merasa akan kehilangan. Tapi nggak, gua tepis jauh-jauh prasangaka nggak bener itu. Ibu akan sembuh disana, akan berkumpul bersama gua lagi, menyaksikan gua tumbuh dewasa, membuatnya ia bangga sampai mau meledak dadanya. Tapi nggak tau kenapa, lagi-lagi perasaan itu muncul lagi. Tanpa diperintah oleh siapa-siapa gua peluk dia erat-erat. Kali ini dia nggak coba untuk mencium gua, karena mungkin tau gua nggak akan mau. Tapi sisa-sisa sinar matanya, buat gua mencium kedua pipinya, mengecup kening yang sudah nampak menuanya, tes-tes… Air matanya, bercampur dengan air mata gua.

***

Kini gua berdiri dalam peristirahatan terakhirnya. Gua dapet telfon dari tante gua, sambil nangis-nangis dia bilang Ibu udah nggak ada. Well, gua terima. Semua manusia akan meninggal, semuanya termasuk manusia selembut Ibu. Dari Jakarta kita semua sekeluarga romobongan pulang ke Jawa. Untuk sekedar, mengantarkaknnya dalam istirahat kekal. Bunga-bunga itu gua taburkan di gundukan tanah yang di nisannya ada tulisan nama dia. Di atas pusaranya gua memekikan satu janji, gua akan sekolah setinggi-tingginya, menjadi orang yang berpenagaruh untuk kemaslahatan umat banyak. Nanti akan gua katakan ke semua orang di seluruh dunia, bahwa dibalik ini semua, ada wanita luar biasa yang membuat gua jadi merasa menjadi anak paling beruntung di seluruh dunia, karena memliki Ibu, sehebat dia.

***

Tulisan ini, gua dedikasikan untuk kalian anak-anak yang merasa memeliki Ibu sehebat Ibu gua. Ciumlah Ibu-ibu yang kalian anggap hebat itu, ciumlah mereka sekarang juga! Bukan menakut-nakuti, tapi bisa saja itu adalah ciuman terakhir kalian semua padanya.

Pendidikan : Harga Mati Sebuah Harga Diri

Dari dulu gua udah percaya, bahwa untuk merubah nasib seorang manusia, yang dibutuhkan hanyalah ilmu yang banyak. Dan untuk meraihnya, cuma dengan melalui jalur yang bernama pendidikanlah itu semua bisa tercapai. Kepercayaan itu kini berubaha menjadi sebuah keyakinan, bahwa sekolah setinggi-tingginya akan buat lo bahagia. Dunia akhirat…

***

Flash back sebentar, dulu ke masa dimana gua masih mengenyam bangku Sekolah Dasar. Di SD Negeri Margahayu 23, kalian semua akan menemukan seorang anak, dengan nama Indra Julianta, sedang berdebat hebat dengan sang guru mengenai penggolongan spesies hewan unik yang bernama platypus.

“Ibu guru, mamalia itu nggak ada yang bertelur. Lagian platypus itu juga nggak punya kuping. Kata ibu saya, hewan yang nggak punya kuping itu bukan mamalia…”
“Tapi Indra, di buku ini tulisannya begitu. Platypus tergolong hewan mamalia!”
“Kok bisa, emang kenapa?”
“Di buku ada! Udah ngak usah banyak nanya! Kita lanjutkan membahas reptile, ada yang tau anak-anak apa itu reptiil ?”
“Ibu guru tadi saya nanya belum dijawab ??”
“Iya benar ! Reptil adalah hewan melata… !”

Itulah gua dulu. Selalu paling cerewet, dan sok-sokan keritis. Perihal kecil, selalu ditanya sampai serinci-rincinya. Dari SD aja gua udah pandai menilai, mana guru yang kompeten, mana yang nggak. Mana guru yang emang niat ngajar, dan mana guru yang ngajar cuma karena nggak ada kerjaan lain yang bisa dikerjakan. Selain itu gua selalu menjadi orang paling semangat di kelas. Hasilnya dari kelas 1 sampai dengan kelas 6, gua selalu duduk di peringkat kedua. Iya cuma kedua. Karena sang peringkat pertama, adalah orang yang tak tergantikan. Selain rajin, ia juga cerdas. dan yang paling utama, dia anak cewek. Ibu gua sering bilang, anak cewek itu pasti lebih teliti kalau ngerjain apa-apa ketimbang anak cowok.

Mmh Ibu gua, selalu memberikan pengetehuan yang sifatnya general. Seperti perihal mamalia tadi, kalau nggak nyari tau sendiri, sampai sekarang mungkin gua akan terperangkap dalam ilmu kesesatan karena menganggap hewan yang nggak punya kuping itu bukan mamalia. Kasihan paus dan lumba-lumba, susah-susah nete’in anak-anaknya, nggak juga bikin mereka dianugerahi gelar sebagai hewan mamalia.

Beralih ke SMP, gua masuk SMP 1 Bekasi. SMP paling nomor satu di Kota Bekasi. Walaupun jauh dari rumah, tapi disini gua masih tetep semangat sekolah, masih keritis, tapi udah lemah untuk bersaing. Dikumpulin sama anak-anak yang dulu SD nya juara lomba seapa aja, bikin gua jadi ngerasa percuma lah belajar serius-serius, toh nggak akan ranking satu juga. Mentalitas seperti inilah, yang menjadi cikal bakal kemalasan-kemalasan itu. Belajar kalau ulangan doang, PR nyontek, tugas ngumpulin kalau udah deadline. Sekolah cuma mau nilai amannya aja, yang penting naik dan nggak jelek-jelek amat. Selalu nyari yang tengah-tengah, seperti sifat bangsa ini.

SMA, gua berhasil menjaga track record mengenyam pendidikan di sekolah negeri. Gua masuk di SMA 4 Bekasi. SMA paling nomor empat sekota Bekasi. Buat perbandingan, jarak SMP 1 kerumah gua itu jauh. Maka kalau jarak SMA 4 kerumah gua itu adalah, jauh banget. Iya jauh banget, karena Harapan Jaya-Bulak Kapal adalah rute yang paling cepet setengah jam untuk bisa lo melaluinya. Tapi walau jarak memisahkan ‘aku dan SMA 4-ku’, semangat untuk sekolah masih meletup-letup kencang. Nilai gua lumayan, masuk IPA, dan lulus SNMPTN.

Kuliah, gua berhasil mengukuhkan hegemoni riwayat pendidikan ini dijalur yang semuanya adalah negeri. Gua diterima di Unila, Universitas yang terletak di kota Bandar Lampung. Melalui SNMPTN, ujian saringan masuk yang bikin lo ngerasa makan pun tak enak, tidur pun tiada nyenyak. Karena lo harus belajar ekstra gila-gilaan buat lulusnya. Diterima disini, itu berarti mengharuskan gua juga menerima semua tantangan yang berlaku. Pada titik inilah sebuah perjuangan menempuh pendidikan benar-benar gua rasa.

***

Gua tinggal di dirumah tante gua, di Metro. Sedangkan Unila terletak di Bandar Lampung, dan teman-temanku para pembaca yang budiman, tahukah kalian berapa jarak yang terbentang antara dua kota ini? Very good answer, jaraknya adalah 50 km. (Jarak ini diukur, berdasarkan speedometer motor Yamaha Vega R gua). Lebih banyak 10 Km dari Lintang sang Bocah Petualang. Dan itu harus gua tempuh selama satu jam lamanya, kalau pantat bisa ngomong, mungkin dia tak akan bohong. Memang gua nggak melewati itu yang namanya buaya berbadan sebesar pohon sagu, tapi rintangan gua lebih dari sekedar itu.

Lo pada pernah denger ga sob ? Tentang salah satu profesi yang bernama begal? Itu lho orang yang gemar membegal ? Yang mengincar para pengendara motor yang belaga bak jagoan karena naik motor malam-malam sendirian? Udah tau kan… Nah jarak yang gua laluinya tiap hari ini, adalah lahan basah bagi mereka untuk mencari sesuap nasi. Sori, maksud gua seunit motor. Dan mereka nggak akan pernah merasa berdosa kalau-kalau setelah ngambil motornya, orangnya diabisin juga. Bisa dibilang mati iseng. Jadi lo mati, terus pas begalnya diinterogasi dia cuma bilang, “Nggak kok cuma iseng…”

Belum lagi jalur lintas Sumatera yang banyak bolong-bolongnya, bikin gua tiap hari ngelihat kecelakaan super dahsyat yang kalo lo abis liat, mungkin akan mikir-mikir lagi bawa motor dengan gaya belagak sok Pedrossa. Can you believe it, gimana mobil avanza nyusruk rumah warga, dibelakangnya nyusruk juga truk besar bermuatan gula, dimana avanza itu yang tadinya mulus sekarang dalam keadaan penyok kaya kaleng sarden, dan disela-sela pintunya ada kaki manusia nyempil dengan hiasan darah segar. Itulah bahaya yang mengintai gua di perjalanan pulang-pergi ngampus. Tapi itu biasa. Ada hal yang lebih menakutkan lagi, yakni terancamnya asset gua yang paling berharga, muka gua. Iya, kalau begini caranya, wajah maha tampan indo blesteran Sweden-Wonogiri gua bisa rusak karena setiap hari kena debu dan kotoran yang tidak bertanggung jawab. Melajulah Brad Pitt sendirian dalam kontes cowok ter-oke sedunia, karena saingan terberatnya, gua maksudnya, udah nggak ganteng lagi.

***

Dulu gua pernah janji, sama Alm. Ibu. “Aku nanti harus jadi sarjana, gimanapun caranya.” Ibu cuma ketawa, seraya mengucap, “Iya, buktiin ke Ibu kalau kamu bisa.” Sayang, beliau cuma bisa ngeliat gua dengan gantengnya pakai baju SMA. Cuma sampai sana dia mendampingi gua. Setiap ingat akan janji itu, semangat akan kembali berlipat-lipat. Jalanan yang jauhnya berhektar-hektar jadi nggak berasa apa-apa. Sungai-sungai besar di sepanjang daerah Sukadana, yang mengandung hawa mistis tempat jin buang anak, terasa seperti perairan di Venice dengan gondola-gondolanya yang membuat hati tak sabar untuk menaiki. Dari helm gua yang warna pink ini, terlihat sebuah pemandangan indah. Terbentang luas rumput hijau dengan biri-biri lucu berkejar-kejaran, tenang dan menyegarkan hati, bak dataran rendah di kaki Pegunungan Alpen. Jembatan angker Tegineneng, tidaklah menakutkan lagi. Ia kini adalah Brooklyn Bridge, jembatan termahsyur se-Amerika. Semuanya menakjubkan, sungguh-sungguh menakjubkan.

Bagi seorang laki-laki, sebuah janji bukanlah perkara main-main. Harus ditepati, jika tidak ingin terkena bala burit sepuluh bulan. Oleh karena janji itulah, gua bertekad untuk sekolah setinggi-tingginya. Target setelah ini : S2 dengan beasiswa ke Eropa.