Friday, January 20, 2017

Indonesia yang Sama

Entah kenapa akhir-akhir ini gua terlalu sentimentil. Melihat dunia dengan dua sudut pandang sekaligus: optimis namun sangat kacau.

Kebanyakan media masa masih menampilkan berita itu-itu saja. Merendahkan nalar pemirsanya. Semua hanya perkara tentang urusan dan kepentingan. Yang lucunya, harus dianggap penting juga oleh semuanya.

Pejabat, gubernur, pak lurah atau pelaku praktik politik, tak ingin kalah dengan popularitas seniman komedi tunggal atau kehabisan drama seperti selebritis youtube dan instagram.

“It’s a sad day when our politicians are comical, and I have to take our comedians seriously.”

***

Gua ketiban apes. Politik ada dimana-mana. Celaka dua belas.
Astaga naga.
Astaga angsa.

Di sekolah, kampus, karang taruna, kantor, gedung pemda atau rukun tetangga, semua menghirup politik.
Menggagu pernapasan. Polusi dimana-mana. Gua jengah. Seolah politik ialah istilah yang diciptakan untuk mengganti kata pamrih, supaya terdengar lebih beradab. Semua hanyalah tentang balas budi. Atau lebih pesimis lagi: aktifitas dagang. Dengan modal sekecil-kecilnya, untuk berkuasa selama-lamanya.


***

Gua dirundung duka. Siapa lagi yang bisa diajak bicara? Mencoba berusaha mengerti, domisili tempat gua berada sekarang sedang mengalami proses yang harus disikapi dengan jernih dan bijaksana. Seperti negeri lain, melahirkan kehidupan baru dari keadaan yang semrawut, lalu timbul revolusi, berujung kehidupan bahagia masyarakatnya.

Chaos. Mungkinkah ini sudah tiba fasenya? Jika sebuah kedamaian harus dibuat diatas benturan-benturan, lalu berapa banyak orang yang sanggup menganggap ini hanya sekelumit periode untuk sebuah kekal sejahtera yang menjadi cita-cita umat manusia?

Biarkan ini menjadi sebuah proses yang alami. Seperti sepasang kekasih yang ingin mencoba saling mengerti kedalaman hati belahan jiwanya satu sama lain. Keributan adalah keniscayaan. Jika semua sudah dilandasi dengan impian untuk bersama meski berbeda. Semua akan berlalu dikubur waktu. Pertengkaran ini murni dari sebuah siklus dialektika. Disikapi normal saja.

Adapun hal ini bisa menjadi kasus yang rumit. Jika keributan ditimbulkan dari pihak lain. Sebuah cobaan ilahiah yang kerap disebut dengan ujian orang ketiga. Perkara bukan main-main. Motivasinya adalah kolonialisasi. Menguasai lalu mengambil alih. Marabahaya. Biasanya keributan akan timbul karena wacana yang sudah didesain untuk mencerai-berai. Dibutuhkan kesadaran volume tinggi. Jangan biarkan ini terjadi.

***

Desain oleh: @arylosophy





Singkat saja. Semoga kita masih punya banyak kesamaan dalam melihat negeri ini. Kita berbeda dalam semua, kecuali Indonesia.

Sunday, December 18, 2016

Jalan Hidup yang Tersembunyi

Senin, 19 Desember 2016

Akhir tahun. Tidak terasa waktu lagi-lagi main selonong begitu saja. Tanpa permisi, tidak tahu adat, tidak kenal istiadat.

Gua tenggelam dalam pemikiran sendiri. Masih mencari makna mau apa manusia sebenarnya dalam hidup ini. Buku-buku menjadi pelarian yang paling ideal dan penulisnya menjadi sahabat karib yang sangat kental. Ternyata selama ini hanya perasaan agak geer. Jauh bermasa lalu, dalam bahasa yang berbeda-beda, usaha untuk mengetahui tujuan kehidupan sudah banyak dilaksanakan.

Gua pikir gua solo karir.

***

Bulan lalu gua membaca biografi Dan Brown. Begitu luasnya imajinasi manusia dalam tempat yang kira-kira hanya seukuran tempurung kelapa. Banyak hal yang membuat gua terkesima. Motivasi Dan Brown menulis, plot yang tidak terduga, dan usahanya untuk menceritakan sesuatu dari dua bahasa yang berbeda: sains dan agama.

Tidak lama gua membaca Madilog-nya Tan Malaka. Sebuah dialektika made in Indonesia. Ditulis di sampul depannya, termasuk dalam ‘100 Buku Berpengaruh dan Berkontirbusi Terhadap Gagasan Kebangsaan’ versi Tempo. Gelar yang menggetarkan. Tan Malaka bagi gua, adalah representasi pria renesains cap nusantara. Pemikirannya melebihi zamannya. Besar harapan gua, Tan Malaka menjadi idola anak-anak muda. Sehingga mereka setidaknya, punya influence yang bergizi tinggi.

***

Terakhir buku tipis dengan judul ‘Gie dan Surat-surat yang Tersembunyi’. Seperti sebuah ziarah akan cerita lama, tentang Soe Hok Gie yang gua kenal dalam impresi pertama di filmnya. Dulu sekali.

Pernah, ketika sekolah menengah pertama. Masa-masa menonton bioskop di Bekasi Trade Center pulang sekolah seorang diri. Momentum sok keren dari anak kecil yang tinggal di pinggiran Kota Bekasi. Disitu kali pertama bertemu dengan sosok yang kerap dipanggil Gie.


Catatan hariannya adalah sebuah karya yang membekas. Harta karun yang harus diindungi museum dan tentara nasional Indonesia. Ia menulis tentang kehidupan dan kemanusiaan. Dengan kejujuran. Tanpa lupa untuk setia pada keromantisan dalam setiap diksi yang dipilihnya.

Kali ini gua menemukan buku yang mengumpulkan memoar surat-suratnya yang belum pernah diterbitkan. Dengan alasan akan membahayakan sahabat dan orang terdekat. Karena banyak berisi kritikan terhadap orang-orang yang punya pengaruh dan pegang kuasa di negara kita.


***

Buku ini adalah jawaban sebuah kerinduan. Seperti gua rindu digugah secara intelektual. Dan dimotivasi, bahwa menulis, meninggalkan jejak sebanyak-banyaknya, sejatinya adalah kehidupan yang harus gua jalani. Dengan setia.

Tuesday, November 10, 2015

Krisis Seperempat Abad

Gua benci matematika. Gua menganggap lebih dari separuh masalah di dunia ini muncul karena perhitungan-perhitungan yang nggak pernah punya batas. Kebencian itu dimulai dari sekolah tingkat menengah pertama. Karena bagi gua, sejak itu matematika kehilangan kesederhanaannya. Ia jadi punya banyak syarat, kelebihan aturan, anti kompromi dan terlalu senewen.

Jawabnya Ada di ujung Langit.

Apalagi ada sebuah standar purba orang tua di Indonesia, menganggap kecerdasan anak adalah kecerdasan aritmatika. Bodoh di matematika berarti bodoh semuanya, pukul rata.

Matematika adalah satu-satunya masalah di kehidupan akhil baligh gua.

***

Waktu berjalan, pasti dan perlahan. Muncul paradoks, sebuah karma semesta. Seperti kakak tingkat gua di kampus, Bongkeng namanya, selalu menyebut "Paling enak emang ngejilat ludah sendiri".

Sejenak diri ini rindu pada sebuah masa, dimana segala kepahitan dunia adalah bab trigonometri dalam hal yang paling gua benci, matematika. Rindu pada tiga sekawan bernama Sin Cos Tan yang pada saat itu posisinya lebih antagonis dari pacar yang mengajak break tapi ternyata melarikan diri bersama CPNS dengan iming-iming menikah di gedung pemda.

Ternyata matematika tidak ada apa-apanya.

Dibanding standar orang tua purba yang pada saat gua remaja menuhankan matematika, bergeser menjadi keimanan bahwa sukses adalah orang yang kaya. Belajarlah yang rajin, pandai matematika, kemudian engkau akan jadi orang. Yang tidak kaya ya tidak orang, begitu penjelasannya, barangkali. Tau ah gelap.

Lagi-lagi, manusia memberikan apresiasi manusia lain karna nominal, angka-angka, statistika. Matematika berevolusi menjadi spesies yang lebih rumit dalam bentuk berbeda. Hati ini patah jadi dua.

***

Dewasa ini gua dihantui sebuah ketakutan bernama kesuksesan. Semakin bertambah usia, orang-orang akan semakin nyinyir. Padahal bisa dibilang gua salah satu yang tidak terlalu ambil pusing dengan pendapat asal-asalan orang banyak, mendekati sikap tidak perduli, anti persepsi sosial.

Apa sih arti sukses? Kalau gua jabarkan tentang sukses yang gua sepakati, yang gua pelajari dari Deepak Chopra dalam bukunya The Seven Spiritual Laws of Success, mengenai sukses adalah sebuah proses perpanjangan dari kebahagiaan dan kemampuan untuk memenuhi impian kita tanpa usaha, besar potensi mereka akan geleng-geleng dengan mulut penuh kalimat istighfar sambil berkata, "Orang itu tolol dulu baru tua. Bukan tua dulu baru tolol".

7 Hukum Sukses Spiritual

Gua bukan tidak ingin punya karir yang bagus, gadget terbaru, tabungan gemuk, liburan Maldives, wine testing di Ritz, "tersesat" di Ibiza, akal sehat anak muda mana yang akan menolak? Kalau gua ditanya semua pertanyaan itu pasti akan gua jawab mau banget dengan meminjam kecepatan ibu-ibu tukang rebut sate padang di kondangan.

Banyak, tidak bisa diasosiasikan dengan dengan keberhasilan hidup seseorang. Banyak, bisa jadi justru indikasi polusi karena kuantitas yang tidak terkontrol. Hidup tidak melulu tentang materi. Karena sukses itu sendiri adalah perjalanan, bukan tujuan. Materi adalah salah satu aspek yang membuat perjalanan jadi lebih menyenangkan. Ingat, salah satu. Karena akan ada aspek lainnya seperti kesehatan, hasrat hidup, relationship yang saling mengisi, kemerdekaan berpikir, stabilitas emosi dan psikologi, perilaku yang baik serta hati yang damai.

Sukses yang gua yakini harus berangkat dari kebahagiaan. Karena gua percaya kebahagiaan yang gua dapatkan akan membawa arahnya sendiri menuju sebuah tempat bernama kesuksesan. Tanpa terlihat nafsu dan bertendensi menjadi ambisius. Usaha edan-edanan bukan untuk menjadi sukses, tapi cukup menjadi manusia yang baik saja.

Baik untuk diri sendiri, keluarga, sahabat, juga baik untuk alam semesta.

***

Meminjam alat ukur masyarakat umum tempat gua berada, predikat sukses seolah masih jauh untuk gua sandang. Ketika sukses menjadi sebuah "kejar setoran", idealisme yang gua jabarkan seperti tidak ada artinya. Mereka menganggap sukses dulu baru bahagia, padahal bahagialah saja karena itu adalah kesuksesan dalam bentuk yang lebih sederhana.

Mental punya fluktuasi. Dalam titik terendah, terkadang gua merenung memikirkan semuanya. Hati ini menjadi lupa akan bahagia. Gua akhirnya tidak sukses dalam definisi masyarakat, juga dalam definisi yang gua bangun sendiri: tidak kaya tidak bahagia.

Gua merasakan anomali. Entah ini hanya perasaan atau memang sebuah kepastian. Karena gua pernah membaca, manusia akan mengalami quarter life crisis. Sebuah gejala ketidakjelasan psikis tentang ketakutan akan masa depan dalam usia sekitar dua puluh lima. Begitu kurang lebih.

Jangankan bercita-cita menjadi astronot ke bulan, memilih tempat liburan untuk menghilangkan penat dari pekerjaan saja butuh banyak pertimbangan. Di dalam kepala serasa ada perang dunia kedua, semuanya berkecamuk. Lagi-lagi, angka menjadi masalah klasik gua. Kali ini dalam bentuk usia. Balasan gua kepada perempuan, yang selalu merasa dianiyaya oleh usia.

Saat ini gua iri pada comberan. Setidaknya, dia tau kemana alirannya akan menuju.

Nus, Aku Lupa Perahu Kertasnya. Nanti Aja Ya. Bbm Aja.

Wednesday, August 5, 2015

Cerita Panti

Dalam ceritera hidup umat manusia, sebelum kenyataan menampar tega tanpa menyisakan sedikit rasa kasihan, menjadi luntang-lantung, gaji rendah, telat bayaran sekolah anak, prahara biduk rumah tangga, sembunyi dari kejaran agunan bank di kolong meja, penyakit yang nggak bisa diklaim BPJS, lalu  is dead, nasib lebih dahulu memanjakan manusia dalam suatu masa yang luar biasa: kuliah.

Kampus dengan intelejensia yang bercahaya, dosen cerdas berkredibilitas, civitas akademika, perpustakaan yang puitis, pohon rindang apatis, aktivis organisasi yang belum tidur, tugas yang selalu diundur, merupakan perpaduan dengan kadar yang tepat untuk membuat kuliah menjadi sebuah miniatur nirwana di ufuk khatulistiwa. Sekaligus, tempat bunuh diri alamiah yang strategis.

Terlebih, jika kuliah dilewati dengan orang-orang luar biasa yang namanya akan selalu dicatat oleh sejarah.

***
Cerita Batin Santi

Kita memanggilnya Batin, panggilan kepada kakak perempuan dalam adat masyarakat Lampung. Pertemuan dengan dia adalah sebuah misteri kosmis, paduan antara nasib menurun dan kebetulan mendatar, takdir teka-teki silang. Beliau pahlawan dalam cerita ini, ketika memberikan izin menempati rumahnya yang nggak dihuni, kepada mahasiswa-mahasiswa semester akhir perwujudan mutasi dedemit dalam kepercayaan tradisional masyarakat klasik.

Batin adalah dosen di dua universitas sekaligus, Pelita Harapan di Tangerang dan Sai Bumi Ruwa Jurai di Bandar Lampung. Prototipe wanita indepeden modern, sistematis dan fokus dalam menyelesaikan to do list. Mengenyam master dalam bidang ekonomi melalui  sebuah beasiswa di Belanda, diteruskan dengan program doktor di Institut Pertanian Bogor. Buat gua, dia  merupakan Sri Mulyani dalam wujud yang bisa disapa.

Karena jasanya, mulai saat ini Batin Santi akan selalu masuk dalam daftar nama yang harus disebut, depan khalayak, saat kita mengucapkan rasa terima kasih dalam momen penghargaan Gobel Award, nikah masal, atau arisan keluarga.

***

Cerita Aan

Ibunya merupakan sahabat Batin Santi sedari muda, kemudian dianggap saudara, begitu berdasarkan ceritanya. Aan adalah awalan atas alasan sekumpulan mahasiswa komunikasi terancam drop out dan memutuskan untuk tinggal dalam satu atap nasib yang sama: belum lulus kuliah.

Di samping biaya sewa kosan atau kontrak rumah semakin mahal, berbanding lurus dengan derajat rasa malu berkaca umur untuk merengek membabibuta meminta uang kepada orang tua, Aan menawarkan solusi untuk tinggal di rumah Batin bersama. Ada dua alasan, yang pertama meringankan biaya listrik dan air pam, yang kedua karena dia takut setan. Inilah yang disebut dengan fenomena, ada setan takut setan.

Aan Pratama dan Satu-satunya
Aan merupkan anak tunggal semata wayang. Hobinya telfonan dengan ibunya sambil duduk di atas mesin cuci. Laki-laki yang mempunyai masalah dengan kepercayaan diri. Kepedeannya rendah sekali. Sang ibu khawatir, bujang kebanggannya akan sulit menjalin sebuah relationship dengan lawan jenis. Sang ibu putar otak, dibelikannya sepeda motor gentleman yang bisa mendongkrak mental sang anak. Saat Aan menaiki motor kiriman Ibunya, seperti panglima dalam perang Troya, gagah bukan buatan.

Sayang nggak berapa lama motor itu hilang. Dicuri orang waktu main badminton di stadion. Aan kembali menjadi pria pemurung. Menghabiskan waktu menelfon ibunya di tempat favorit, duduk di mesin cuci. Kuliahnya terbengkalai. Skripsinya acak-adul. Sampai sang ibu menawarkan, "Udah, nanti kamu Mama jodohin sama anak teman-teman Mama aja." Aan dalam sebuah senyum yang kecut, coba mengumpulkan harga diri yang tinggal sedikit.

"Tapi Ma, masalahnya mau nggak cewek itu sama Aan?"

***

Cerita Zulian

Zulian adalah antitesis dari Aan. Batas kepercayaan dirinya adalah  khayangan tempat bersemayamnya Dewa Erlang. Nama aslinya Zulian Tanjungan, sebuah nama yang selalu menggetarkan hati siapapun yang ia ajak kenalan.

Sepintas dari penampilan, kesan yang ingin disampaikan adalah kartel narkoba Kolombia, seperti seorang yang tidak pernah makan bangku kuliahan. Namun kesan itu memang benar apa adanya, ia adalah penjahat dalam bentuk yang lebih soft, mafia pendidikan, gensgter akademik: joki tugas.

Don Zul Alcapone

Predikat itu cukup lama Zulian sandang. Sebagai  seorang joki tugas yang adi luhung, ia tidak pernah mengecewakan konsumen. Ratingnya selalu tinggi, high recommended. Namun di samping itu ia memiliki posisi cukup dilematis, mahasiswa yang terlambat sadar kuliah selama dua tahun, dimana dalam periode waktu tersebut ia gunakan untuk bekerja di dinas perhubungan bagian timbangan truk-truk besar lintas Sumatera, membuatnya berkomitmen kampus adalah tempat mencari ilmu, materi, serta jodoh sehidup semati.

Manusia selalu hidup dalam pilihan. Ketiga aspek yang Zulian cari nggak pernah semuanya ia dapat secara bersamaan. Suatu waktu ia memiliki ilmu dan materi, bisnis tugasnya lancar, nilai-nilai kuliahnya bagus namun cerita cintanya horor. Ngajak cewek pacaran tujuh kali, ditolaknya tiga belas. Pernah ia merasakan gelimang harta, pacarpun punya, kuliahnya hampa. Anak SMA klien foto buku tahunannya ia gebet, gadis itu terkesima. Bangga bercampur khawatir, seperti ikut pemilu presiden pertama kali, apa sudah tepat pilihannya kali ini. Tidak genap sebulan, mereka broke up. Entah Zulian yang kuran ajar, atau sang gadis sadar bahwa ia telah menjadi korban penipuan anak di bawah umur.

Jiwa Zulian terguncang. Zulian kalah banyak. Kuliah amburadul, jatuh miskin, terancam membujang dimakan rayap. Sesuai kodrat orang patah hati, energi yang dipancarkan negatif. Rumah 'hibah' ini menjadi suram. Seperti tempat tinggal para pesakitan. Oleh karena itu mulailah rumah yang kita singgahi ini dinamai 'panti rehabilitasi'. Karena macam-macam penyakit hati bersemayam disini.

***

Cerita Agus

Kalian pernah membaca, tentang kisah cowok cuek yang tidak pernah perduli dengan lingkungannya? Dalam cerita itu biasa digambarkan, sang cowok hanya mendengarkan lagu-lagu cutting edge aliran brit pop, dengan lirik cinta yang nggak kalah cuek. Menonton film drama romantis yang seluruh adegannya merupakan kumpulan ketidakperdulian, pemeran utama pria dan pemeran utama wanita sama-sama masa bodo.

Agus To Campus

Agus adalah jelmaan laki-laki tanpa rasa simpatik itu. Film favoritnya adalah 500 Days of Summer, lagu yang selalu ia nyanyikan nggak jauh-jauh, The Smiths dengan judul Please, Please, Please, Let Me Get What I Want. Kepada Zulian yang patah hati Agus nggak tertarik. Kamar kotor dia tidak ambil pusing. Cucian menumpuk dia menolak ikut campur. Tuhan tahu, tapi menunggu. Sebuah skenario serangan balik untuk Agus.

Kecintan akan kecuekan Zooey Deschanel dalam film favoritnya sepanjang masa menyisakan malapetaka. Seperti kumpulam hyena di padang gurun Afrika yang siap menyerang kapan saja, itulah karma. Agus kena getahnya. Jatuh cinta pada seorang perempuan tapi tidak digubris. Seperti mau seperti tidak, seperti ingin tapi tak ingin. Agus adalah bukti konkrit sebuah fenomena mutakhir teraktual yang disebut dengan korban PHP. Agus meninggal.

Entah kenapa hal itu berbanding lurus dengan kehidupan akademisnya. Dosen pembimbing skripsinya memperlakukan Agus tanpa perikemanusiaan apalagi perikeadilan. Janji surga yang tidak kunjung ketemu surganya, surga yang tak dirindukan, sebuah gombalan besok seminar, malamnya sang dosen berubah kehedendak, seminar ditunda, PHP dua kali. Agus reinkarnasi, hidup lagi, kemudian meninggal lagi.


***

Cerita Pakde

Di panti, Pakde adalah salah satu karakter protagonis. Perangainya santun, nggak banyak bertingkah. Waktu ia habiskan dengan mendisain grafis, up date soundcloud, dan back packer. Ia adalah traveller super sejati. Terlahir dengan nama Khairil Anwar, seorang maestro sastra Indonesia, ayahnya ingin ia menjadi binatang jalang yang bisa hidup seribu tahun. Namun ia menolak, cukuplah saja disapa Pakde. Sebuah sapaan rendah hati yang bersahabat.

Pakde Terbakar Api Cemburu

Pakde adalah mantan anak mahasiswa pecinta alam universitas. Ceritanya getir, bagaimana ia berjuang untuk menyelematkan kuliahnya dan memilih pensiun dini dari unit kegiatan yang mengatasnamakan kecintaan pada alam tersebut. Dia pernah dilepas di gunung, dengan modal korek api lima batang, air berwadah alat kontrasepsi, serta kelengkapan survival layaknya Tom Hanks di film Cast Away.

Pernah tujuh hari dia tidak kelihatan, berangkat pamit ke kampus. Tidak disangka besoknya dia sudah berdiri gagah di samping tugu Jogjakarta. Seperti para pengelana yang sudah-sudah, baginya barangkali pendidikan terbaik adalah universitas kehidupan.

***

Cerita Tojo

Namanya Tojo. Pengidap kesurupuan jenis ketiga, kesurupan yang nggak bisa dijelaskan oleh dukun dimana-mana. Kelakuannya selalu ganjil. Alergi terhadap hal bersifat higienis. Obsesif kompulsif dengan AKB 48. Dia akan mengeluarkan sebuah gestur yang nggak bersahabat, kalau ada yang bilang bahwa apa bedanya AKB 48 dengan JKT 48. Tujuan hidupnya tidak ada yang pernah tahu. Sekali waktu pernah ia mengatakan ingin menjadi polisi, besok astronot NASA, besok lusa berubah lagi menjadi aktor film dewasa. Orang seperti dia, paling cocok diadu kepalanya dengan banteng Texas Amerika.

Tojo The Old Fashioned Lover Boy

Tojo pernah bercerita, wajahnya antusias, sebuah aksi protes orang-orang Jepang tentang legalisasi pernikahan dengan operation system. Mereka menuntut diizinkan berumah tangga dengan smart phone atau personal computer-nya. Kekurangan skil sosial memang suatu hal yang mengkhawatirkan. Tojo memiliki kecenderungan, untuk jatuh cinta pada latopnya sendiri. Lalu kemudian menikah, bahagia selamanya.

 ***

Cerita BNI

Panti adalah sebuah saksi perjalanan segerombol mahasiswa mencari jati diri. Tentang fase dalam kehidupan untuk sebuah penemuan akan esensi hidup itu sendiri. Luar biasa sekali jasa panti dalam hidup kami. Panti pernah menjadi saksi tentang sebuah janji kecil yang pernah kita sama-sama buat, bahwa kelak, kami akan melayani negeri untuk kemudian menjadi kebanggan bangsa dalam cara yang tidak terlalu jumawa, seperti motto bank favorit kami, BNI. "Melayani Negeri Kebanggan Bangsa".

Di setiap penghujung semester di gerai-gerainya, kita bersama menunaikan kewajiban membayar kuliah dengan pelayanan yang elegan. Menjaga struk bukti pembayaran sebagai syarat penting diwisuda, menjadi perantara transfer dana saat kita merengguk indahnya sebuah hal ajaib yang bernama beasiswa, BNI menjadi benang merah dalam perjalanan kuliah anak-anak penghuni panti rehabilitasi.

Melalui transfer BNI, Aan dihadiahi sepeda motor pendongkrak harga diri, Zulian Tanjungan mendapat imbalan atas perangai anak-anak malas yang berat mengerjakan tugas, Agus belanja untuk mengobati rasa sedih, Pakde travellling dan media pembayaran favorit Tojo saat mengumpulkan pernak-pernik AKB.

 

BNI adalah definisi singkat pertemanan antara kami dengan sebuah landasan filosofi friendship is the true relationship.

Sunday, July 26, 2015

Tulip Fever

Gua kembali kepada kebiasaan lama gua yakni rutin membaca. Dengan membaca gua merasa menjadi sahabat orang-orang hebat, mendaki kelas sosial, naik pangkat. Harusnya memang seperti itu, suatu waktu pernah ayah dari kerabat dekat berpesan, "Waktu Om seusia kamu, Om harus baca buku apapun minimal tiga puluh halaman". Tanpa mengurangi rasa hormat, beliau tidak muda pada zaman dimana sumber ilmu pengetahuan adalah twitter, path dan instagram. Membaca buku adalah kegiatan kaum minor, tidak cool, cupu abis. Sebaliknya, aktualitas diukur dengan informasi yang didapat dari facebook. Semua propaganda tanpa tanggung jawab yang ditulis disana adalah kebenaran, undang-undang dasar, wajib diimani, cool banget, gaul mampus.

Rutinitas membaca buku harus mengalami pelonjakan fluktuasi. Setidaknya gua nggak mau terjebak dalam generasi dimana semua ketidakberesan yang menimpa hidup lo terus dibebankan kepada Amerika, Yahudi, atau iluminati.

"Ini semua bukan salah kamu, salah aku, atau salah keadaan. Ini adalah konspirasi gerakan zionis. Aku sayang kamu,  please aku mau kita balikan".

Seketika sang pria ditembak rudal nuklir Korea Utara.

***
Kebiasaan membaca selalu berbanding lurus dengan kegemaran menilai. Seorang yang membaca buku sampai habis lantas beropini, pembaca buku setengah biasanya sangat yakin di awal tapi selalu berakhir di kata 'mungkin',  mereka yang membaca  buku pinjaman banyak tahu tapi tidak cerewet, dan kategori terakhir, kelompok marabahaya, menilai dari sampul dan daftar isi lalu bergosip eintertainment. Ditutup dengan  tawa palsu renyah, kwkwkw.

Gua memutuskan untuk beropini dan menilai di jalan yang halal, situs rating. Dalam dunia perbukuan ada sebuah laman ternama yaitu goodreads.com tempat pecinta buku seluruh dunia berbagi ulasan, kritik maupun rekomendasi. Dalam laman itu juga terdapat fasilitas pemberian rating, juga deteksi pintar tentang judul buku lain yang cocok dengan selera kita.

 
Dari situs ini gua mendapatkan satu rekomendasi buku menarik, ditulis oleh penulis Britania Raya Deborah Moggach, berjudul Tulip Fever.

***

Tulip Fever adalah sebuah cerita tentang seni, kecantikan, gairah, ketamakan, muslihat, dan balas budi yang berlatarkan Belanda pada tahun 1635. Sebuah masa dimana Belanda terkena wabah tulip mania atau tulip fever.

Perekonomian Belanda tumbuh pesat dan memicu persaingan antara pecinta bunga tulip. Mereka berlomba-lomba mencari bunga tulip yang paling indah dan nggak segan-segan membayar dengan harga mahal untuk membeli bunga tulip tersebut. Harga bunga tulip di Belanda semakin mahal, bahkan kabarnya ada jenis bunga tulip yang harganya sama dengan harga sebuah rumah. Tahun 1635, satu set bunga tulip yang berjumlah 40 tangkai dijual dengan harga 100.000 florin, bandingkan dengan pendapatan kalangan kelas menengah pada masa itu di Belanda yang hanya 150 florin. Tahun 1636, usaha bunga tulip menjadi salah satu bisnis yang perdagangan yang masuk dalam bursa saham dan diminati banyak orang. Kalangan pengusaha rela menjual tanah, rumah dan harta bendanya untuk berinvestasi di bisnis bunga tulip. Ironisnya, masa keemasan bisnis bunga tulip di Belanda hanya berlangsung setahun, karena pada tahun 1637 pasar bunga tulip jatuh dan harga bunga tulip ikut melorot.

Sampai hari ini, istilah "tulip mania" atau "tulipomania" atau "kegilaan tulip" masih digunakan sebagai istilah untuk menggambarkan goncangnya perekonomian karena munculnya spekulan terhadap sesuatu trend bisnis yang sifatnya untung-untungan. Jika saja ahli sejarah jeli, fenomena ini sudah ada sejak lama menimpa Indonesia. Dunia akan sangat sepakat, gua rasa, dengan gejala sosial yang lebih sinting dari sekedar kegilaan akan sebuah bunga. Namanya gemstone fever, atau sebut saja akikmania.


Akikmania tidak hanya menggoncangkan perekonomian, tapi juga mencederai akal sehat, keretakan rumah tangga, dan menyebabkan banyak suami harus kedinginan tidur di sofa.

***
 
Di samping setting yang menarik, ide cerita dalam buku ini yang membuat gua harus membacanya, at least once in a life even just for a while. Tentang seorang kaya raya asal negeri Belanda bernama Cornelis Sandvoort, yang ingin mengabadikan semua kemahsyurannya dalam sebuah lukisan megah bersama sang istri cantik, Sophia.

Sandvoort lantas menyewa jasa pelukis muda bernama Jan van Loos. Gua curiga kalau Jan van Loos adalah kakek moyang dari Jack Dawson, karena kisah dua casanova melarat ini relatif mirip, seorang pelukis muda yang diam-diam jatuh cinta kepada perempuan yang dilukisnya.

Dari sini dimulai, sebuah epik cinta terlambat karena keadaan keduanya yang tidak memungkinkan. Kalau boleh gua kutip, sebuah tweet singkat dari Mbah Jiwo Tejo tentang deskripsi cinta rumit yang ternyata sudah ada sejak zaman Ramayana,

"Tuhan! Bila cintaku kepada Sinta terlarang, mengapa Kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku?"

Sebuah statemen tegas dari Rahvana yang cintanya kepada Sinta keduluan Rama.

***

Beberapa waktu lalu gua berkunjung ke kantor kedutaan Kerajaan Belanda. Sepertinya gua terkena tulip fever dalam definisi yang gua buat sendiri. Sebuah gairah akan hasrat memiliki tulip dalam bentuk yang lain, bantuan dana pendidikan. 
  
http://possore.com/cms/assets/uploads/2014/12/poster-Tulip-scholarship.jpg
Untuk kemudian memetik tulip sungguhan yang sudah lama gua kagumi, dari dulu.